Seorang pemimpin adalah seseorang yang mampu mewujudkan
mimpi/visi group/departemen yang dipimpinnya menjadi kenyataan. Bukan visi
pribadi yang dipaksakan menjadi visi group. Bila hal ini dibiarkan, maka
visi group menjadi kabur dan cepat atau lambat akan bubar dan ini diperparah
bila masing-masing anggota membawa visi pribadi masing-masing.
Menjadi seorang pemimpin adalah keharusan, karena setiap orang dipanggil
dan ditetapkan oleh TUHAN untuk menjadi pemimpin. Para bapak dipanggil
untuk menjadi pemimpin di tengah keluarga, ibu-ibu dipanggil menjadi ratu
rumah tangga, anak-anak menjadi pemimpin atas dirinya sendiri, seorang
direktur menjadi pemimpin di perusahaannya, rektor menjadi pemimpin di
unversitas, etc. Baik dalam segi rohani maupun jasmani, dalam dunia sekuler
maupun di gereja, kita adalah pemimpin. Yang menjadi pertanyaan, kualitas
seperti apa yang akan kita bawa ke tengah-tengah orang yang kita pimpin.
Kita dipanggil menjadi kepala dan bukan ekor. Ekor berbicara orang yang
tidak membawa dampak bagi orang lain, hidupnya dikendalikan oleh situasi
yang ada. Sedangkan kepala berbicara orang yang hidupnya membawa dampak,
mempengaruhi keadaan sekitar dengan keberadaan dirinya. Contoh: presiden,
setiap omongan nya akan di “yes man “ oleh bawahannya. Walaupun mungkin
merugikan rakyat banyak. Tapi coba bila rakyat jelata yang mengadu, jarang
sekali ditanggapi dengan benar.
mimpi/visi group/departemen yang dipimpinnya menjadi kenyataan. Bukan visi
pribadi yang dipaksakan menjadi visi group. Bila hal ini dibiarkan, maka
visi group menjadi kabur dan cepat atau lambat akan bubar dan ini diperparah
bila masing-masing anggota membawa visi pribadi masing-masing.
Menjadi seorang pemimpin adalah keharusan, karena setiap orang dipanggil
dan ditetapkan oleh TUHAN untuk menjadi pemimpin. Para bapak dipanggil
untuk menjadi pemimpin di tengah keluarga, ibu-ibu dipanggil menjadi ratu
rumah tangga, anak-anak menjadi pemimpin atas dirinya sendiri, seorang
direktur menjadi pemimpin di perusahaannya, rektor menjadi pemimpin di
unversitas, etc. Baik dalam segi rohani maupun jasmani, dalam dunia sekuler
maupun di gereja, kita adalah pemimpin. Yang menjadi pertanyaan, kualitas
seperti apa yang akan kita bawa ke tengah-tengah orang yang kita pimpin.
Kita dipanggil menjadi kepala dan bukan ekor. Ekor berbicara orang yang
tidak membawa dampak bagi orang lain, hidupnya dikendalikan oleh situasi
yang ada. Sedangkan kepala berbicara orang yang hidupnya membawa dampak,
mempengaruhi keadaan sekitar dengan keberadaan dirinya. Contoh: presiden,
setiap omongan nya akan di “yes man “ oleh bawahannya. Walaupun mungkin
merugikan rakyat banyak. Tapi coba bila rakyat jelata yang mengadu, jarang
sekali ditanggapi dengan benar.
